
oleh : Miftahul Khair *)
Musibah Tsunami 26 Desember 2004 di Aceh telah mempopulerkan kembali nama Aceh ke seluruh dunia. Masyarakat dunia mengakui begitu dahsyatnya musibah ini, dan kemudian menimbulkan hasrat mengenal masyarakat dan bumi Aceh itu sendiri. Orangpun tahu bahwa ternyata Aceh yang saat ini berupa timbunan rongsokan gedung dan mayat, ternyata selain kaya sejarah juga punya Sumber Daya Alam.
Di NAD beroperasi berbagai perusahaan yang mengeruk alamnya. Exxon Mobil adalah salah satu perusahaan minyak raksasa AS yang mengeruk emas hitam (minyak bumi) alam Aceh. Sementara lautan Aceh – dari sini petaka itu berasal – logikanya tentu juga kaya, walaupun belum ada data detail dan penyelidikan intensif terhadapnya.
Lantai laut mengirim bencana
Tsunami di NAD disebabkan oleh gempa tektonik karena pergerakan lempeng samudera dengan pusat gempa 140 km dari garis pantai Aceh. Lempeng Samudera adalah lempeng yang mendasari samudera yang luas yang terdapat di bumi ini. Berbeda dengan pusat gempa yang berada di darat yang tak akan menimbulkan Tsunami.
Bagi korban Tsunami yang selamat, kata-kata ombak, laut, samudera menjadi momok yang begitu menakutkan. Saking traumanya, korban yang selamat akan menunjukkan ekspresi ketakutan kalau melihat ke laut, atau sekadar diperdengarkan kata-kata yang berhubungan dengan laut.
Namun demikian, laut adalah tetap sahabat kita. Lautlah penghubung daratan (bukan pemisah daratan). Kita sudah berkarib dengan laut. Nelayan tiap hari melempar sauh, menarik pukat ke pantai, dan mendapatkan penghidupan dari laut. Pantai nan indah menjadi tempat rekreasi sambil menikmati sunset serta deburan ombak yang memecah di pantai. Dalam terminologi SDA, sesungguhnya dasar laut bisa menjadi tambang dolar, karena dasar laut ini bisa merupakan hamparan kekayaan alam. Sebagian ahli telah mengetahui bahwa dasar laut kaya akan SDA berupa mineral.
Maka laut Aceh sendiri yang saat ini meninggalkan kesan tragis bagi warganya, dan kebetulan saat ini pula tempat berseliwerannya kapal-kapal asing, sejatinya juga menyimpan potensi SDA. Namun sementara kita belum memiliki data detail, karena kita belum melakukan riset intensif disana. Secara umum bisa kita tinjau potensi mineral dasar laut berikut.
Menambang dasar laut
Kita biasanya berfikir bahwa mineral selalu didapatkan /ditambang di daratan. Memang, dari sebaran lokasi yang ditambang di Indonesia mineral yang didapat banyak dijumpai di daratan. Misal daerah Tembagapura/pegunungan Irian Jaya merupakan penghasil tembaga dan emas yang dikeruk PT Freeport, sebuah perusahaan milik AS. Di Sumbar kita mengenal batubara di Ombilin dan Semen di Indarung. Di Sulawesi ada tambang Nikel, di Cilacap ada tambang Besi (PT Aneka Tambang), dan banyak lagi yang lain. Khusus yang menjadikan laut sebagai areal penambangan mungkin hanya pada penambangan Timah di Pulau Bangka. Tapi ini hanya pada kedalaman 40 meter.
Bahwasanya dasar samudera adalah hamparan kekayaan mineral masih sedikit negara yang mengetahuinya. Disamping masih sedikit ahli-ahli yang punya kemampuan dan pengetahuan khusus terhadap lantai laut itu. Diantara penyebab yang mungkin adalah karena lokasi yang susah dijangkau sehingga diperlukan alat ekplorasi yang canggih dan mahal pula.
Tahun 1873, diluncurkan ekspedisi Challenger di Samudera Pasifik. Inilah pertama kalinya operasi mengeruk mineral dalam nodula dari dasar laut. Nodula adalah endapan / butiran-butiran batuan yang berisi mineral-mineral. Butiran-butiran ini mempunyai diameter beberapa milimeter sampai 15 centimeter dan terakumulasi di dasar laut.
Mineral yang dikandung dalam nodula ini diantaranya adalah Mangan, Besi, Titan, Nikel, Tembaga dan Kobalt. Mineral Mangan dan Besi memiliki porsi besar, yaitu 15-20%. Dalam kadar yang lebih sedikit didapatkan Titanium, Nikel, Tembaga dan Kobalt. Komposisi ini berbeda-beda pada setiap lokasi penambangan nodula, bahkan pada lokasi tertentu mineral Mangan pada nodula bisa mencapai 35%.
Mineral multiguna
Era industrialisasi dan kemajuan teknologi menyebabkan kebutuhan akan mineral dan logam-logam demikian pentingnya bagi peradaban manusia. Jumlah penggunaan logam-logam bisa menjadi indikator kemajuan suatu negara. Kita tak berbicara lagi tentang kayu sebagai tiang, karena saat ini besi dan beton menjadi rangka bangunan. Sebagaimana kita tak perlu lagi pedati dan sapi karena digantikan oleh mobil metalik, atau kuda perang yang digantikan oleh tank-tank baja. Demikian pula mineral logam yang disebutkan diatas sangat penting artinya dalam kehidupan manusia.
Mangan sangat penting sebagai zat tambahan pada baja-baja. Sebagaian besar Mangan (95%) digunakan untuk keperluan ini. Baja yang sangat kuat dibuat dari campuran logam Besi dan Mangan. Rel kereta api Padang-Bukittinggi yang demikian kuat dan sudah dipakai semenjak zaman Siti Nurbaya adalah contoh campuran logam Mangan ini dengan Besi. Alat-alat berat yang digunakan untuk konstruksi karena kontribusi Mangan. Mangan dalam bentuk senyawanya bisa berupa oksidator, pembunuh kuman, disinfektan, seperti pada campuran air mandi bagi penyakit kulit, dan juga sebagai deodoran. Mangan dipakai juga untuk pewarnaan gelas, pengering dalam cat hitam, dan dipakai pula pada baterai kering. Sekali lagi, selama ini orang menambang Mangan pada batuan-batuan di kerak bumi.
Besi adalah bagian dari peradaban manusia. Keseharian kita berhubungan dengan besi, mobil sampai sepeda yang kita kendarai, peralatan dapur, hiasan furniture, alat-alat elekronik, dan tak tersebut lagi. Tak perlu lagi diperjelas gunanya karena banyaknya manfaatnya.
Titanium banyak digunakan pada industri pertahanan, misalnya untuk pesawat tempur dan kapal selam nuklir. Negara-negara yang mempunyai anggaran militer besar dan banyak terlibat perang, atau menjadi produsen senjata sangat berkepentingan dengan logam ini. Titanium juga dipakai status sosial kaum kaya, misal untuk sepeda bertulang titan dan klub golf.
Nikel banyak dipakai sebagi pelindung besi. Orang dahulu pernah menggunakan mata uang nikel. Nikel dengan logam lain bisa dibuat menjadi logam paduan yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Logam paduan nikel bahkan sudah dikenal lebih dari 2000 tahun yang lalu di Cina.
Tembaga karena banyak gunanya sebagimana besi sudah merupakan bagian dari peradaban manusia. Emas, perak, tembaga digunakan orang dahulu sebagai mata uang (coinage metals). Tembagapun bisa dibuat menjadi logam paduan (alloy) dengan berbagai spesifikasi yang diinginkan.
Kobalt telah digunakan pula semenjak ribuan tahun lalu. Kobalt dipakai sebagai pewarna biru gelas,juga sebagai perkakas dapur. Di laboratorium kimia (baik di perguruan tinggi atau industri), uji kualitatif ion-ion logam juga menggunakan kobalt.
Saat ini berbagai teknik penambangan sedang dikembangkan sehingga bisa mengeruk sampai 200 ton nodula per jamnya. Berbicara tentang teknologi mutakhir ini, tentu hanya negara maju dengan kekuatan IPTEK didukung sumber dana dan Sumber daya manusia andal yang bisa maksimal melakukannya.
Ada apa dibalik armada ?
Bencana Aceh mengundang simpati dunia. Bantuan berdatangan dalam berbagai bentuk. Bencana Aceh juga telah menghadirkan kapal-kapal perang di Aceh. AS telah mengerahkan belasan ribu tentaranya dengan kapal induk USS Abraham Licoln sejak 31 Desember 2004. Australia mengirimkan kapal induk HMAS Kanimbia. Kapal induk ini bagai pulau berjalan yang dilengkapi dengan kecangggihan teknologi dan kelengkapan peralatan yang luar biasa. Kita tak tahu pasti dengan kapal induk ini berikut teknologi super canggihnya. Ada apa di perutnya, kepalanya, lambungnya, hanggarnya,, dan sebagainya. Termasuk bagaimana teknologi detector, radar, satelit, alat pemetaan, sistim informasi, atau apa saja yang ia punya. Demikian pula sudah berapa kali personil penyelam (scuba diver) yang mengarungi alam laut Aceh ini kita tak tahu.
Maka, hingga selesainya operasi kemanusiaan di Aceh kita juga tak bisa menjamin bahwa peta alam/ sumber daya alam laut Aceh lebih banyak dimiliki negara-negara yang pernah turut urun tenaga ke Aceh dibanding RI sendiri (dalam hal ini Meneg ESDM/Lemigas/BPPT/LIPI dan sebagainya).
Kembali masalah mineral dalam nodula dasar laut. Negara AS adalah termasuk yang paling banyak berminat. AS sendiri harus banyak mengimpor Mangan, Kobalt dan Nikel untuk keperluan dalam negeri mereka. Industri-industri di AS perlu logam-logam dan sebagian harus diimpor dari luar negeri. Maka hasrat untuk mendapatkan logam tertentu akan menjadi besar pula. Jadi ?

*) Penulis (jaket hitam) adalah dosen muda Kimia bersama student Indonesia di TU Delft,



