The keystone of all science rests first on integrity.
oleh Miftahul Khair, S.Si
Short cut yang berarti jalan pintas merupakan istilah dalam komputer yang berguna untuk memperpendek jalan ke suatu program. Sebagai contoh, bila kita ingin membuka MS Word, kalau biasa kita mulai dari Start, Program, MS Office, MS Word, tapi dengan short cut cukup dengan mengklik sebuah icon MS Word pada desktop layar monitor, maka Windows MS Word yang dituju langsung terbuka. Dengan adanya Short cut ini maka pekerjaan lebih praktis dan waktupun bisa dihemat.
Karena praktisnya, maka Short cut ternyata juga dijumpai dalam dalam kehidupan sosial. Pejuang kemerdekaan negeri ini dahulu, sebagaimana kini di Palestina dan Irak, meyakini bahwa kematian yang didapatkan dari aksi jihad melawan penjajah adalah suatu short cut ke Sorga. Bagi mereka amalan yang dia miliki selama ini belum cukup sebagai bekal untuk meraih Sorga.
Tapi sebaliknya seorang Doktor Kucing (sebutan untuk penerima gelar dari institusi tak jelas penganugerah gelar akademik), juga bersemangat membayar mahal agar dapat gelar tanpa perlu kuliah dan ujian thesis. Doktor ilegal ini tak perlu (baca: tak mau) pusing-pusing memikirkan topik penelitian, karya ilmiah, dan ujian disertasi, karena telah ada jalan pintas yang lebih cepat dan mudah. Yang penting bisa menenteng gelar bergengsi sebagaimana para pemegang gelar MM, MBA, Doktor dan Profesor lain, urusan layak tidaknya gelar itu baginya urusan belakangan.
Siswa dan mahasiswa yang mengikuti ujian ternyata juga kerap memakai short cut. Ujian akhir semester yang baru lalu adalah contoh bagaimana kursi, meja, tangan, rok dan baju, atau kertas jimat kecil, sebagai icon short cut yang jadi saksi bisu. Maka kemudian pelesetan jimat takambang jadi sarjana menjadi rahasia umum di sebuah institusi yang memakai motto alam takambang jadi guru.
Bagaimanapun juga, melakukan kebohongan tetap merupakan perbuatan tercela. Hal yang mungkin dianggap kecil seperti menyontek dalam ujian tetap saja suatu kebohongan. Namun manakala kebohongan -dalam ukuran yang kecil kasat mata sekalipun- dilakukan oleh insan akademik dalam ranah ilmu pengetahuan di institusi yang menjunjung tinggi nilai ilmiah dan etika intelektual adalah suatu yang sangat besar dan fatal.
Sepersejuta kebohongan mahasiswa/sarjana adalah kefatalan. Kimiawan yang berbohong sebesar sepersejuta menyebabkan petaka. Misal, ia berbohong bahwa tak ada kelebihan sepersejuta bagian gas CO di udara akan mampu meracuni orang. Mahasiswa kedokteran pun demikian, hal-hal mikro merupakan taruhan nyawa kalau tak ingin terjadi malapetaka karena malpraktek. Sarjana sipil yang menganggap sepele kemiringan satu derjat akan menumbangkan gedung yang baru dibangun. Sarjana geologi yang mengabaikan satu derjat sudut akan membuat persengketaan tanah, dlsb.
Seorang pembohong yang melakukan penelitian, kemudian hasilnya dipublikasikan melalui jurnal. Lalu jurnal itu kemudian dirujuk oleh ilmuwan, bisa dibayangkan apa yang terjadi. Mungkin suatu proyek penelitian menjadi gagal, investasi merugi, hasil yang tak kunjung ketemu, atau proses mengundang bahaya.
Indonesia yang telah merdeka 61 tahun ternyata belum mampu menghidupi rakyatnya dengan kemakmuran. Yohukimo Papua menjadi bukti bagaimana alam yang berlimpah sementara diatasnya rakyat mengerang kelaparan. Demikian pula jumlah penduduk miskin yang berbilang puluhan juta, sulitnya kini mencari pekerjaan, pengangguran, upah buruh yang rendah, dan sebagainya.
Beragam faktor bisa diurai. Tapi tingginya tingkat korupsi di negeri ini –no 1 di Asia- jelas merupakan penyebab besar. Artinya, sangat banyak hak orang banyak yang dimakan segelintir individu. Individu ini adalah orang yang menganggap biasa apa yang disebut kebohongan. Maka dimanipulasi dan di dimark up suatu proyek. Insinyur sipilpun kemudian mudah berbohong demi bisa memakan aspal sekian drum dan beton-beton menjulang. Pengusaha hutan berdusta dalam rangka melahap kayu-kayu balak gelondongan. Petugas administrasi berbohong agar bisa makan kertas dan tinta printer.
Kualitas lulusan sebuah lembaga pendidikan menjadi diragukan manakala budaya bohong ada pada insan akademiknya. Sarjana berprediket cumlaude yang dahulunya nyontek dalam ujian akan diuji kredibilitasnya di lapangan, baik saat seleksi mencari kerja atau manakala berkiprah di masyarakat. Apakah layak prediket summa cumlaude itu dengan kapasitas yang ia punya.
Kalaupun mereka bisa bekerja di perusahaan misalnya. Maka kebiasaan berbohong akan mengkolapskan perusahaan itu. Pekerja di bagian quality controll yang terbiasa berbohong dengan mudah membuat data fiktif, tapi nanti costumer melakukan complaint, dan rugilah perusahaan yang bersangkutan karena kehilangan buyer.
Sesungguhnya wajah generasi hari ini adalah wajah negeri 1-2 dasawarsa kedepan. Kalau kini wajah mereka masih polos, lugu, kadang malu-malu, tapi tunggulah 10-20 tahun lagi, mereka telah menjadi pemimpin masyarakat di berbagai tingkatan sosial. Maka kalau generasi kini menganggap biasa berbohong, maka pemimpin 20 tahun lagi adalah orang yang terbiasa berdusta juga. Maka tak akan habislah kisah sedih negeri kaya yang lara.
*Penulis adalah dosen muda Kimia, tulisan dimuat di SKK Ganto UNP Januari 2006




